Showing posts with label story. Show all posts
Showing posts with label story. Show all posts

Tuesday, 24 June 2014




Hari ini terasa sekali suasana nostalgia. Padahal ini hanya hari biasa, bukan hari raya, bukan pula akhir pekan. Ini hari Senin, hari yang kurang disukai oleh sebagian pekerja di kota besar.

Suasana nostalgia terasa ketika saya ingat apa yang terjadi setahun yang lalu. Persis di tanggal ini, jam ini, menit ini, detik ini, saya memutuskan untuk memberanikan diri mengucapkan ucapan ulang tahun kepada seseorang yang belum lama saya kenal. Dekat pun tidak. Ia hanya sebatas kolega, tidak ada hubungan khusus apapun. Tapi setelah saya putuskan untuk mengucapkan selamat ulang tahun padanya, hari-hari saya berubah. Saat itu saya merasa, mungkin ini adalah sebuah awal yang baik dan dengan harapan akan berakhir dengan baik, tentunya. 



* * *


Saya takut untuk memulai. Saya bimbang. Harusnya saya ucapkan saja selamat ulang tahun tanpa kebimbangan dan kecemasan apapun. Pikiran saya pun berputar-putar disitu: haruskah saya ucapkan selamat ulang tahun kepadanya? Apakah tidak terkesan murahan?

Ah, memang dasar. Saya perempuan yang terlalu tinggi gengsi. Saya selalu berpikir seribu kali untuk memulai hal-hal macam ini. Tidak, sebenarnya saya takut penolakan. Saya takut jarak yang sudah lebar ini terbentang lebih lebar lagi. Semakin jauh untuk menjangkaunya, semakin sulit saya untuk mengenalnya.

Setelah berpikir seharian, saya pun memutuskan untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Di dalam ucapan itu, saya selipkan kutipan tentang ulang tahun, kemudian saya sertakan ucapan selamat ulang tahun di akhir. Setelah itu, saya putuskann untuk tidak membuka-buka handphone saya selama 3 hari. Belakangan saya baru menyadari, ucapan dari saya punya bentuk yang berbeda dibandingkan berbagai ucapan yang berdatangan untuknya. Otot kaki pun seketika lemas. Pikiran negatif bermekaran. Dasar bodoh.

Selama saya tidak menyentuh handphone saya, tidak bisa menjalani hari-hari dengan tenang. Saya tidak tahan ingin membuka handphone saya dan melihat apakah ia memberi tanggapan atau malah mengacuhkan. Mungkin ia menyadari bahwa ucapan saya berbeda dengan ucapan-ucapandari teman-temannya. Apa ia menyadari bahwa saya memperlakukan ia berbeda? Kalau ia sadar, matilah saya.

Akhirnya hari itu tiba. Saya pun memberanikan diri untuk membuka handphone saya, melihat-lihat adakah tanggapan dari dia.

Ada. Dari dia.

Mampus.


Saya buka dan lihat apa yang ia tulis disitu. Ia mengucapkan terima kasih atas kutipan yang saya cantumkan dan menanyakan tentang festival film Jerman yang saya hadiri sebelumnya. Ah ya, ada cerita menarik di hari festival film itu.

Sehari sebelum ulang tahun dia, saya menghadiri sebuah festival film Jerman. Saat itu saya kebagian menonton film pukul 17.00. Saat itu sama sekali tidak terbesit pikiran akan dia. Saya fokus menghabiskan waktu bersama beberapa teman.

Pukul 16.45 saya memasuki studio, kemudian saya dan teman-teman saya pun sibuk mencari tempat duduk yang enak untuk menonton selama 2 jam kedepan. Setelah mendapatkan tempat duduk yang cocok, saya dan teman-teman pun langsung duduk serta diselingi candaan-candaan khas kami. Sama sekali tidak terbesit pikiran tentang dia. Hati saya begitu ringan dan tenang.


Film pun dimulai. Kala itu saya menonton film tentang seseorang yang dipenjara di Guantanamo, tapi ia tidak bersalah apapun. Ia menjadi korban kambing hitam atas berbagai macam tuduhan terorisme. Tokoh utamanya adalah seorang Jerman keturunan Turki. Jalan cerita film ini sangat khas Eropa, bukan tipikal film kejar setoran tapi sarat akan nilai. Pikiran saya benar-benar terpusat pada film dan popcorn yang saya beli sebelum masuk studio. Sama sekali tidak ada dia dalam pikiran saya.

Ketika sudah mulai menjelang akhir film, sebuah pikiran muncul.

"Seharusnya orang seperti dia sangat suka film semacam ini."

"Eh? Mungkin dia datang?"

Fokus saya pun buyar. Saya tidak berkonsentrasi akan akhir cerita. Saya bimbang dan, anehnya, saya begitu yakin dia datang. Seketika saya, yang tadinya antusias menantikan akhir cerita, jadi hanya bisa terdiam sambil memegang kotak popcorn dan memandangi film dengan tatapan kosong. Film itu ingin menyampaikan kepada seperti apa akhir ceritanya, tapi saya hanya tutup telinga. Pikiran saya sibuk menjelajah, karena saya begitu yakin dia ada disitu.

Seusai menonton film, saya pun bergegas keluar. Saya berbohong kepada teman saya, saya bilang saya ingin ke toilet. Padahal, saya hanya ingin memastikan kalau perasaan saya benar. Saya turun dari tempat duduk menuju pintu keluar dengan langkah cepat dan sedikit berlari. Saya menyelinap diantara banyak orang yang hendak keluar. Sesampainya saya di pintu keluar, langkah saya terhenti. Saya melihat sekeliling, mencari dia diantara sekian banyak orang yang berlalu lalang di bioskop. Saya lihat satu per satu muka orang-orang di sekitaran studio. Tidak ada.

"Kebiasaan membuat-kesenangan-sendiri ini memang harus segera dihilangkan. Benar-benar tidak baik untuk jasmani maupun rohani.", pikir saya.

Saya pun berjalan dalam tempo lambat sambil mencari celah kosong supaya teman-teman saya bisa dengan mudah menemukan saya. Dalam setiap langkah, yang saya lakukan hanyalah mengasihani diri sendiri. Betapa menyebalkan mengagumi seseorang itu, malah membuat saya tidak bisa berpikir lurus seperti ini. Ah ya sudahlah, heute ist es mein Pech. Memang sebaiknya dikurangi imajinasi saya yang kadang suka berlebihan dan insting saya yang kadang suka sok tahu ini.

Setelah menemukan spot kosong, saya berdiri disitu sambil menanti teman-teman saya. Tak lama kemudian teman-teman saya tampak dari kejauhan. Saya memberikan kode kepada mereka supaya mereka semua berkumpul di tempat saya. Kami pun segera membicarakan tempat untuk makan malam bersama. Hati saya masih kacau, seperti ada dua pribadi dalam diri saya yang saling ngotot.

"Dia datang, kok. Yakin, dia ada disini."

"Tidak, tidak. Itu hanya khayalanmu saja. Hentikan segera. Kembalilah berpijak ke tanah."

Sudahlah. Berisik. Saya mau senang-senang.

Ketika saya dan teman-teman saya ingin bergerak keluar dari bioskop, muncul dia disitu bersama keluarganya. Mata kami bertemu dan saling melambaikan tangan dari kejauhan. Saya ingat kala itu ia memakai kaos putih yang dilapisi dengan kemeja kotak-kotak berwarna oranye sebagai luaran, rambut yang sepertinya baru saja dicukur, celana jeans, dan sepatu kets yang sering ia pakai ke tempat les. Saya berusaha menguasai diri untuk tampil biasa saja. Tapi memang, peristiwa bioskop itu adalah peristiwa yang benar-benar membuat saya sumringah sekaligus semakin bimbang sekaligus takjub. 

Insting saya benar. Kali ini insting saya benar. Apa yang hendak insting saya katakan kepada saya? Apakah dia orangnya? Atau hanya perasaan saya saja?

Dari kejauhan saya dan dia pun hanya menanyakan hal-hal biasa. Datang dengan siapa, hendak menonton film apa, dll. Tidak ada kejadian-kejadian spesial, hanya pertemuan biasa di bioskop. Setelah basa-basi, saya pun pamit dan kembali ke dalam gerombolan teman-teman saya.

Terkadang, memang bukan hal-hal luar biasa yang membuat kita senang atau takjub. Hal sederhana pun bisa terasa indah dan menyenangkan, apalagi kalau hal sederhana itu terjadi secara alami.

Oke, kembali ke cerita ulang tahun.

Saya sangat senang karena respon yang ia lontarkan baik. Ia menyelipkan satu pertanyaan diantara ucapan terima kasih yang ia ucapkan. Pikiran saya pun melayang lagi. Apakah ia ingin melanjutkan obrolan? Atau hanya sekedar bertanya? Dan lagi-lagi, saya bimbang seharian untuk menyusun kata-kata balasan untuknya. Berulang-ulang saya menyusun kalimat balasan untuk dia, dan ketika saya merasa yakin dengan susunan kata yang telah saya buat, saya pun langsung kirim.

Apapun yang saya lakukan, yang berkaitan dengan dia, selalu membuat saya merasa bodoh. Sekalipun semua itu sudah direncanakan dengan baik, tetap saja berakhir dengan "Ya ampun, kenapa begini jadinya? Payah.".

Obrolan itu memang hanya berlangsung sebentar dan singkat, tapi hati pun menjadi hangat dan senyum pun tak lekas hilang dari wajah saya. Entah sampai kapan semua ini akan berlangsung, tapi saya bersyukur karena hati yang beku sekian lama pun mencair juga karena hal-hal sederhana dan alami semacam ini. 


* * *


Sekarang, sudah setahun sejak semua kejadian itu. Keadaan berubah. Ia sedang bersiap menjalani kehidupan keduanya di negeri seberang, dan saya disini masih merancang kehidupan kedua saya sampai benar-benar sempurna. Bagaimana dengan kami? Tidak ada kami, hanya ada saya sendiri dan dia seorang.

Perjalan pulang saya dari gereja sampai kostan ditemani hujan rintik-rintik. Ini persis, seperti setahun yang lalu.

P.S:
Selamat ulang tahun. Tetaplah menjadi pribadi yang sederhana dimanapun kamu berada. 
 
Bandung, 23 Juni 2014
20:39 WIB



Friday, 31 January 2014

Menikmati Kenikmatan yang Nikmat

Saat saya masih duduk di bangku SMA, saya suka menenggelamkan diri saya ke dalam banyak hal demi mencari setitik kenikmatan. Setelah sekian lama mencari, akhirnya saya menemukan. Dan kenikmatan versi saya si remaja tanggung pada masa itu adalah ketika saya membaca novel kolosal di tengah situasi belajar yang sangat membosankan sambil menyumbat telinga mendengarkan Herbie Hancock dan David Benoit. Dibandingkan dengan anak-anak lain, bisa dibilang saya ini alien. Tapi, bukankah dalam mencari kenikmatan batin, seseorang perlu menjadi alien sejenak?

Karena terlalu asyik menjadi alien, saya pun sempat lupa bagaimana caranya bertransformasi kembali menjadi manusia, menjadi remaja tanggung pada umumnya. Agak sulit memang, mengingat topik pembicaraan dan kegemaran yang sudah jauh berbeda. Pelan-pelan saya mencoba mendengarkan apa yang mereka dengar, membaca apa yang mereka baca, memakan apa yang mereka makan, menertawakan hal yang mereka tertawakan (walaupun saya tidak tahu di bagian mana letak kelucuannya). Saya jenuh dengan segala aksi coba mencoba ini, dan saya pun memutuskan untuk tetap menjadi alien. Saya tidak ingin mencoba hal baru. Saya akan tetap menjadi seorang remaja tanggung yang lebih suka duduk di pojokan kelas sambil mendengarkan musik Jazz dan membaca buku.

Memasuki dunia perkuliahan, saya pun memutuskan untuk mencoba segala sesuatu demi mencari bentuk kenikmatan batin yang lain. Saya mulai mengikuti kegiatan mahasiswa dan berbagai macam pertemuan dari berbagai bidang ilmu, kegemaran, dan keahlian. Pelan-pelan saya ikuti, tidak perlu terburu-buru. Sampai akhirnya saya sampai di suatu titik, bahwa kenikmatan itu sejatinya ada dimana-mana dan cara menikmati suatu hal pun berbeda-beda. Ketika tahu cara menikmati, disitulah kenikmatan akan diraih. Cara menikmati Sejarah tidak seperti ketika menikmati Kalkulus. Cara menikmati Death Metal pun jauh berbeda dengan cara menikmati musik-musik Celtic. Nikmat membaca tidak akan sama seperti nikmat terjun langsung untuk menjadi pekerja sosial. Dalam menikmati teh, orang Jepang dan Inggris pun punya cara yang berbeda. Tapi tujuannya satu, kenikmatan.

Begitu berlimpah kenikmatan di sekitar kita, tanpa kita sadari. Bukan nikmat yang harus mengikuti kita, tapi kita yang harus pandai membaca nilai kenikmatan dan mencari cara untuk meraih kenikmatan akan suatu hal, bahkan banyak hal.

Saturday, 7 September 2013

Matahari masih bersembunyi. Langit masih belum terang. Kabut berbondong-bondong mengeroyok sebuah desa kecil yang terletak di atas bukit itu. Walaupun demikian, hal itu bukanlah alasan bagi seorang Saraswati untuk terlambat bangun pagi. Gadis kecil yang masih berusia 7 pasang musim ini selalu bersemangat dalam memulai hari. Dengan bergegas ia mandi, berpakaian, merapihkan diri, kemudian dengan secepat mungkin kaki-kaki kecilnya berlari menuju alun-alun desa. Alun-alun masih kosong. Ia menjadi yang pertama datang. Ia pun duduk di salah satu sudut alun-alun sambil sambil memakan gethuk yang ia bawa dari rumah.

Sejak setahun yang lalu, Saraswati mempunyai kebiasaan baru setiap pagi yang tak akan pernah ingin ia lewatkan: mendengarkan dongeng. Bagi Saraswati, dongeng adalah hal asing yang mengasyikan. Maklum saja, desa tempat Saraswati tinggal tergolong desa yang jarang disentuh oleh masyarakat luar. Letaknya yang nun jauh di atas bukit serta medan yang berat membuat desa ini benar-benar terpencil. Mayoritas masyarakatnya buta huruf. Masyarakat disana masih berpikir bahwa pendidikan itu tidak penting. Keterampilan mengelola kebun dan sawah lah yang menjadi keutamaan. Keluarga Saraswati pun salah satunya. Tidak ada satupun keluarganya yang mengenyam pendidikan formal. Saraswati, yang terus merengek ingin bersekolah, hanya bisa menerima paisan kosong. Rengekan Saraswati selalu ditangkis dengan omelan orang tua nya. Lelah meminta, akhirnya Saraswati memutuskan untuk diam dan mengubur impiannya untuk bersekolah dalam-dalam.

Sampai pada suatu ketika, ada orang asing yang datang ke desa. Kedatangan orang tersebut menjadi pembicaraan di seluruh desa. Ada orang asing! Untuk apa ia datang ke desa ini? Orang baik kah? Atau orang lain yang ingin mengobrak-abrik kedamaian desa kami, seperti kaum berseragam coklat dan rambut klimis yang pernah datang kesini? Saraswati pun ikut penasaran. Siapa orang ini? Kemudian, orang asing ini berjalan menuju alun-alun desa, berteriak memanggil semua orang untuk berkumpul. Takut sekaligus penasaran menyelimuti seluruh warga desa. Berani sekali ia, orang asing, memerintahkan kami semua. Tapi tidak bagi Saraswati. Penasaran, ia pun mengikuti instruksi dari orang asing tersebut. Bersama dengan para orang dewasa yang sepertinya sudah siap untuk menghabisi orang asing ini, ia mendekat. Orang asing ini tampak tenang dan gembira. Ia pun menyampaikan maksud dan tujuannya datang ke desa ini: ia ingin mendongeng. Dongeng? Apa itu? Apakah itu semacam paham baru yang akan menghancurkan sistem desa ini? Orang asing ini pun menjelaskan dengan ringan tentang apa itu dongeng. Saraswati menilai orang asing ini cukup menarik, karena ia bisa menjelaskan segala hal dengan ringan dan tenang tanpa takut akan dikeroyok massa. Walaupun ia memakai pakain yang, menurut masyarakat desa, aneh, insting Saraswati berkata bahwa orang ini adalah orang yang baik dan tidak akan menghancurkan desa ini. Ia datang untuk maksud dan tujuan yang baik, tidak sepeti kaum berseragam coklat berambut klimis yang waktu itu pernah menyambangi desanya. Setelah mendengar jawaban dari orang asing ini, warga desa ingin melihat aktifitas asing yang bernama mendongeng itu. Orang asing ini duduk, membuka tas nya, mengeluarkan sebuah buku bergambar aneh, membuka halaman demi halaman, kemudian membacakannya. Orang asing ini bercerita tentang kisah anak itik yang buruk rupa. Membosankan, pikir beberapa masyarakat desa. Saraswati pun terpesona. Instingnya semakin keras berkata bahwa ia adalah orang yang baik dan akan membantu Saraswati untuk melakukan banyak hal. Ia selalu terpesona dengan siapapun yang bisa membaca dan menulis, hal yang mungkin tidak akan pernah bisa ia lakukan selamanya.

Bagi Saraswati, membaca dan menulis adalah hal yang sakral. Tidak semua orang bisa melakukannya. Ia mendengar dengan seksama setiap kata yang dituturkan oleh orang asing ini, memperhatikan halaman demi halaman yang dibuka satu per satu, memperhatikan gerakan-gerakan kocak yang dilakukan, binar mata si orang asing yang penuh dengan semangat menceritakan segala sesuatu. Saraswati semakin tidak ingin beranjak. Semakin lama ia semakin larut dalam kisah si orang asing ini. Di dalam hati, Saraswati memutuskan akan menjadi pendengar setia bersama denga warga desa lainnya. Hati Saraswati bagaikan pengelana yang hampir mati kehausan di gurun dan menemukan oase paling hijau segar. Pulang ke rumah, Saraswati senyum sumringah tiada henti.

Gethuknya telah habis. Keramaian mulai terbentuk di tengah alun-alun. Orang asing itu telah tiba. Saraswati pun berlari menuju pusat keramaian. Ia duduk di barisan paling depan. Ia tidak ingin melewatkan setiap dongeng yang akan ia dengar.

Sebelum mendongeng, orang asing tersebut memberikan sebuah pengumuman terlebih dahulu. Aneh. Tumben sekali. Ada pengumuman apa ini? Orang asing tersebut berkata bahwa ia harus kembali ke tempat asalnya dan mungkin tidak akan kembali ke desa ini lagi. Saraswati pun seketika terkejut seraya berpikir. Kalau tidak ada orang asing ini, siapa lagi yang akan membacakan dongeng-dongeng luar biasa untuknya dan anak-anak lainnya? Baru setahun ia baru merasa gembira dan bebas, kemudian mulai sekarang sepertinya ia akan terpenjara lagi oleh adat dan keluarga. Saraswati patah hati dan sakit hati. Sakit yang benar-benar jauh di dasar hati. Pertahanannya runtuh. Saraswati menangis dalam diam. Baru saja ia mulai belajar mencintai dongeng, dan ketika sudah kepalang tanggung cintanya kepada dongeng, sang pendongeng pun harus pergi. Ia tidak tahu lagi dimana lagi ia bisa mendengar kisah Hansel dan Gretel, siapa lagi yang akan membacakan kisah Putri Salju. Harapannya tergantung tinggi pada orang asing ini, yang selama ini selalu menjadi panutan bagi seorang Saraswati. Ketidakmampuannya dalam membaca dan menulis pun dapat digantikan dengan mendengar, dan ia pun senang. Namun ternyata dongeng hari ini akan menjadi dongeng terakhir yang akan ia dengar dari orang asing tersebut.

Setelah selesai mendongeng, orang asing ini berpamitan kepada seluruh warga desa yang giat mendengarkan kisahnya. Tanpa malu-malu, Saraswati memeluk orang asing ini. Dalam pelukan ia bertanya, kenapa ia harus pergi meninggalkan kami semua? Siapakah yang kelak akan membacakan dongeng untuknya? Orang asing tersebut tersenyum penuh haru. Ia tidak tahu bahwa kehadirannya sangat berarti bagi anak ini. Kemudian orang asing ini menjawab, "Kelak, ketika kamu dewasa, kamu akan mengerti." Saraswati tidak ingin mengerti. Otaknya terlalu kecil untuk memahami intrik kehidupan dewasa yang rumit. Yang ia tahu, ia mencintai dongeng dan ia ingin selalu mendengarkan dongeng.


Monday, 29 July 2013

Aditya berkata Wulan



collegelifestyles.com

Tomohon, 01 Januari 1997


Jika boleh ku ambil mistar dan menakar jarak antara pulau ku dan pulau mu di dalam peta, kita hanya sejauh jengkal tangan. Ya, sejengkal. Sejengkal tanganku bisa mengarungi Laut Jawa. Sejengkal tanganku bisa mengetuk pintu rumahmu. Sejengkal tanganku bisa merasakan semua percikan kembang api yang membuncah ketika imaji rasa mulai menjerat sukma. 
Ku pejamkan mata, sambil tetap jengkal tanganku menghubungi kotaku dan kotamu dalam peta. Pelan-pelan aku menyatu dengan jarak yang terbentang. Aku merasuki setiap inci jarak antara tanahku dan tanahmu. Jiwaku berlari mengikuti garis jengkal tangaku, menuju rumahmu hanya untuk sekedar memastikan kamu tersenyum disitu. Tak sempat ku menyentuh sehelai pun rambutmu, karena waktuku tidak banyak. Aku pun membuka mata, Ternyata aku masih disini, di rumahku. Tapi aku beruntung, jiwaku mengunjungimu dan akan selalu mengunjungimu.
Semoga kau berbahagia di pulau seberang, dan semoga setiap titik syaraf di jengkal tangan kita saling bertukar pesan.

Aditya


Aditya hening sejenak. Dalam keheningan, muncul rasa sakit yang entah dari mana. Seketika ia tidak tahan dengan segala nyeri yang semakin lama semakin menggerogoti tubuhnya. Tubuhnya merengut meminta kristal putih pembawa kebahagiaan. Kokain. Sebenarnya ada yang lebih dari sekedar kokain, tubuhnya meminta hal lain. Bukan kokain, tapi sama candunya dengan kokain. Wulan.

Sunday, 16 June 2013

Begitu selesai mengerjakan tugasnya, Wulan rebahan sejenak di kasur ukuran single miliknya. Wulan merasa lega. Nafas panjang dikeluarkannya, menandai kebebasannya setelah ditawan oleh tugas beberapa waktu belakangan ini. Sakit badan dari sejak memulai mengerjakan tugas terangkum saat ini. Mata yang terus dipaksa untuk selalu terbuka lebar pun protes dan ingin segera beristirahat. Akhirnya, dalam kepasrahan dan kelegaan penuh, Wulan terlelap.

Wulan berada di suatu tempat yang asing, tapi ia senang berada di dalamnya. Perpustakaan yang belum pernah ia datangi sebelumnya, perpustakaan yang penuh akan buku-buku yang selama ini ingin sekali ia baca. Wulan pun berjalan kesana kemari dengan penuh semangat. Wulan berjalan menyusuri rak buku sambil mengambil satu per satu buku yang ingin ia baca. Selesai mengambil buku, ia pun berjalan menuju meja untuk membacanya. Wulan mengambil salah satu buku, ia pun segera membuka halaman pertama. Kosong. Wulan pun bingung. Seketika ia melihat orang-orang di sekitarnya, mereka semua membaca dengan serius. Mereka membaca buku-buku kosong. Apa yang ada di pikiran mereka? Ia pun segera membuka satu per satu buku-buku yang ia ambil. Kosong. Semuanya kosong, tidak ada setitik pun tinta di kertasnya. Wulan mulai gelisah. Orang-orang disekitarnya pun memandang ia dengan heran dan kesal karena gerak-gerik Wulan menimbulkan suara-suara mengganggu. Sepertinya Wulan harus segera pergi dari tempat itu. Ia tertunduk malu sambil melangkah ke arah pintu. Ketika ia membuka pintu, ia melihat ruangan kecil miliknya. Ruangan itu keadaannya persis seperti ketika ia baru saja mengerjakan tugas. Ia berjalan menuju tempat tidur. Ia pun terkejut. Ia melihat dirinya sendiri tertidur pulas karena kelelahan. Wulan segera lari keluar karena ketakutan. Dalam pikirannya, Wulan pun heran. Mimpi macam apa ini? Kenapa ia melihat dirinya sendiri tertidur pulas? Apakah ia sekarang dalam wujud roh? Apakah ia mati dalam tidurnya? Ia pun keluar dari ruangan itu. Di balik pintu, ia melihat ada taman dengan bangku yang menghadap sungai. Suasana yang damai, pikirnya. Setelah berbagai macam hal-hal absurd ia lihat, ia pun mendapati tempat yang damai ini. Ia melihat ada seorang lelaki sedang duduk menyendiri di bangku taman. Wulan penasaran. Ia segera menghampiri lelaki itu dan turut duduk di sebelahnya. Wajah pria ini familiar, tapi Wulan tidak tahu namanya. Mungkin lebih baik untuk tidak tahu namanya, sebelum berbagai keanehan terjadi lagi. Tiba-tiba, lelaki itu berbicara kepada Wulan.
"Kelihatannya kau sedang tidak berbahagia."
"Aku lebih suka sebutan 'penuh pertimbangan' daripada tidak berbahagia."
Wulan terkejut lagi. Ini bukan dirinya yang menjawab. Ia merasa seperti dikendalikan sesuatu. Wulan ingin berhenti menjawab. Ia berusaha untuk mengendalikan mulutnya untuk tidak berbicara apapun.
"Pertimbangan? Kau sudah menikah. Apalagi yang kau pertimbangkan?"
"Kebutuhanku. Aku mempertimbangkan apakah sebenarnya aku membutuhkan pernikahan."
Lagi, Wulan merasa dikendalikan. Bagaimana cara supaya mulut ini berhenti berbicara yang bukan berasal dari pikirannya. Wulan merasa seperti film kartun yang bahasanya dialihkan oleh pengisi suara. Ia dikendalikan oleh skenario tak bertuan. Entah apapun itu, Wulan tetap berusaha melawan.
"Kau selalu memikirkan hal-hal tidak penting, kau tidak berubah."
"Kau selalu tahu aku tidak akan pernah berubah."
Ketakutan Wulan sekarang mulai berubah menjadi rasa penasaran. Ia memang dikendalikan oleh entah siapa, tapi sekarang sepertinya Wulan tahu ia akan dibawa kemana. Wulan menyadari ia sedang menjadi media atas skenario tak bertuan. Lagipula, pikir Wulan, kali ini bukanlah sesuatu yang harus ditakutkan atau dicegah. Sepertinya ia harus santai dan luwes, agar bisa menjadi media bagi skenario tak bertuan. Kali ini ia memutuskan untuk tidak bertanya-tanya lagi, dan membiarkannya mengalir.
"Jadi, bagaimana suamimu?"
"Baik. Ia sangat menjagaku. Kau tidak perlu khawatir soal itu, tapi ada satu kekurangannya."
"Kekurangan? Kekurangan apa?"
"Suamiku tidak bisa diajak menggilai kebebasan."
"Kebebasan tidak akan pernah ada disini."
"Aku membuat ruang yang lapang dalam diriku untuk dijelajah dan diisi oleh kegilaan-kegilaan. Aku ingin ruangan tanpa sekat, penuh kejujuran dan keluguan. Sedangkan suamiku selalu beranggapan bahwa kegilaan itu tidak ada. Ia menyekat jiwanya terlalu banyak, sampai tak sempat ia tahu bahwa ketika ia mati, ia harus merapihkan sekat-sekat itu sendiri. Entahlah. Aku tidak ingin membantunya. Aku ingin jiwa tak bersekat, tak berujung, ruang dimana halal atau haram hanya akan teronggok sia-sia dalam tong sampah. Dan aku merindukan semua itu."
Wulan perlahan mulai ikut mengalir dan merasa seperti mulai terasuk jiwanya oleh si empunya skenario.
"Kau banyak omong. Semakin kau banyak omong, semakin aku rindu, Wulan."

Wulan terbangun dengan terkejut dan penuh pertanyaan. Siapakan dia? Lelaki asing dalam mimpi, yang dengan kurang ajarnya menyatakan rindu. Wulan pun segera mengambil segelas air putih dan meminumnya supaya ia merasa lebih baik. Sekarang jantungnya berdegup sangat kencang. Dadanya sakit, nafasnya sesak.  Wulan mulai merasa takut. Ia merasa dihantui oleh entah apa dan siapa. Wulan duduk sambil berusaha mengingat semua perbuatan-perbuatannya dan mencerna maksud dari semua ini.





Friday, 4 January 2013

Sudut Kanan, Barisan Terakhir, Perbatasan.


Acara sudah dimulai. Riuh penonton terdengar sampai backstage. Saya gugup. Semua gugup. Memang ini bukan kali pertama saya berkonser, tapi tetap saja ada sensasi tersendiri dalam setiap penampilan. Setiap konser mempunya atmosfer yang berbeda, dan itulah yang membuat saya gugup. Disela-sela rasa gugup itu, masih sempat saya berpikir tentang dia, yang seharusnya berdiri disitu.  

Sudut kanan, barisan terakhir, perbatasan. 

Sayang sekali. Katamu, kamu sudah lama merindukan atmosfer bernyanyi seperti ini. Sekarang saya berada di situasi yang kamu rindukan ini, dan kamu tidak hadir. Saya akan bercerita kepadamu dan membuatmu iri setengah mati.  

Saya berucap didalam hati sambil menyimpulkan senyum pahit. Pahit yang timbul karena rasa rindu. Pahit yang timbul karena balon-balon memori yang terlanjur membumbung tinggi.

Semua bergerak. Saatnya naik ke atas panggung.  

Saya tersenyum kepada para penonton, tuntutan nomor satu para penampil. Saya melihat sekeliling saya. Sebelum lampu sorot menyinari saya dan rekan-rekan penyanyi, saya menyempatkan diri menengok ke arah itu. Tak ada dia. Saya pun tersenyum.

Saya akan membuatmu iri setengah mati. 

Lampu sorot menyinari wajah kami.  Lambaian tangan itu, pertanda kami harus mulai bernyanyi.